PENDAHULUAN
- Latar Belakang Masalah
Masalah
atau biasa disebut dalam Bahasa Inggris ialah “Problem” yang digunakan untuk
menggambarkan suatu keadaan yang bersumber dari hubungan antara dua pihak atau
lebih yang menghasilkan situasi membingungkan. Masalah biasanya dianggap
sebagai suatu keadaan yang harus diselesaikan. Umumnya masalah disadari “ada”
saat seorang individu menyadari keadaan yang ia hadapi tidak sesuai dengan
keadaan yang diinginkan.
Prayitno (1985) mengemukakan ciri-ciri masalah ialah:
1. Masalah adalah sesuatu yang tidak disukai adanya.
2. Menimbulkan kesulitan bagi diri sendiri dan atau orang lain.
3. Ingin atau perlu dihilangkan.
Setiap masalah yang dialami seseorang biasanya mengandung satu atau lebih
ciri diatas. Untuk mendalami hal tersebut kita dapat melihat diri sendiri
sebagai contoh. Adakah suatu hal, kejadian suasana atau gejala yang tidak
disukai , yang dapat menimbulkan kesulitan atau kerugian bagi diri sendiri
ataupun bagi orang lain atau ingin dihilangkan. Jika ada maka hal itu bisa
dikatakan sebagai ciri-ciri adanya masalah pada diri sendiri. Masalah
seperti diatas dapat terjadi pada siapa saja, termasuk murid sekolah dasar,
menegah maupun atas. Masalah itu perlu diupayakan penanggulangannya.
Prayitno (1985) menyusun serangkaian masalah murid sekolah dasar, menengah
dan atas. Masalah-masalah itu diklarifikasikan atas:
- masalah
terkait dalam kesehatan jasmani
- masalah
keluarga dan rumah tangga
- masalah
psikologis
- masalah
sosial
- masalah
kesulitan dalam belajar
- masalah
motivasi dan pendidikan pada umumnya
Masalah masalah belajar memiliki bentuk yang beragam, menurut Prayitno,
mengemukakan masalah-masalah belajar sebagai berikut:
1. kemampuan akademik,
2. ketercepatan dalam belajar,
3. sangat lambat dalam belajar,
4. kurang motivasi dalam belajar,
5. bersikap dan berkebiasaan buruk dalam
belajar,
Penyelesaian
atau pemecahan masalah adalah bagian dari proses. sering dianggap merupakan
proses paling kompleks diantara semua fungsi, pemecahan masalah telah
didefinisikan sebagai proses “kognitif” tingkat tinggi yang memerlukan modulasi
dan kontrol dari keterampilan-keterampilan rutin atau dasar. Proses ini terjadi
jika suatu organisme atau sistem
kecerdasan buatan yang tidak mengetahui bagaimana untuk bergerak dari suatu
kondisi awal menuju kondisi yang di tuju.
Permasalahan
yang di hadapi siswa cukup kompleks diantaranya ketidak disiplinan dalam
belajar yang menimbulkan kesulitan siswa itu sendiri. Keberhasilan siswa dalm
belajar di tunjang faktor internal dan external. Adanya faktor
internal dan external ini akan membantu guru dalam memahami kondisi siswa pada
proses belajar terhadap memenuhi permasalahan. Untuk memenuhi permasalahan
siswa salah satunya yaitu melalui studi kasus.
Alasan
mengapa saya mengambil topik ini dikarenakan siswa kurang aktif dan belum bisa
memecahkan masalah. Memecahkan masalah yang di maksud ialah dalam mengerjakan
tugas, memecahkan masalah dalam diri sendiri untuk konsentrasi penuh dalam
belajar, memecahkan masalah dalam hidup disiplin, memecahkan masalah dalam
mengatur waktu belajar dengan bermain, memecahkan masalah dalam mengerjakan
tugas rumah yang diberikan oleh guru terutama jikalau tugas tersebut mengenai
kreativitas, karena kurang nya perhatian, motivasi dan dukungan dari orang tua sehingga
anak di bangku sekolah kurang bisa dan aktif dalam memecahkan masalah.
Penyelesaian
masalah dapat diatasi sendiri atau dengan bantuan orang atau pihak lain. Untuk
masalah atau kasus yang berat perlu dilakukan suatu studi kasus untuk
penyelesaiannya. Bimbingan dan konseling untuk menyelesaikan masalah tertentu
yang cukup berat menggunakan metode studi kasus.
Penggunaan
kata “kasus” dalam bimbingan dan konseling tidak menjurus kepada
pengertian-pengertian atau tindak-tindak kriminal atau perdata. Kata kasus
digunakan untuk menunjukkan bahwa ada sesuatu permasalahan yang sangat kompleks
pada diri seseorang yang perlu mendapatkan perhatian dan pemecahan demi
kebaikan orang yang bersangkutan.
- Masalah yang
sering dihadapi siswa dalam proses belajar mengajar
- Anak yang
sulit memahami
Penyebabnya
adalah :
·
Faktor lingkungan
·
Anak yang sulit memahami dikarenakan kelas
tidak nyaman dan tidak kondusif
- Anak yang
bodoh
Penyebabnya
adalah :
·
Kurang belajar, kurang disiplin, kurang memanfaatkan waktu, kurangnya
memperhatikan, kurangnya mengulang pelajaran, tidak ada rasa percaya diri,
banyak bermain menyampingkan pelajaran, malas.
- Anak yang nakal
Penyebabnya adalah :
·
Pengaruh lingkungan yang kurang baik, perhatian orang tua yang kurang
terhadap anak, pergaulan, kurang terkontrol.
- Anak
yang pemalu
Peyebabnya adalah :
·
Biasanya dari faktor anak itu sendiri, dan apabila tidak dirubah maka akan
selamanya anak itu jadi pemalu terus, tetapi anak yang pemalu bukannya tidak
bisa, mungkin ada faktor lain.
- Anak
yang pemalas
Penyebabnya adalah :
·
kurangnya daya semangat dan motivasi,dan kurang terkontrol di dalam
lingkungannya sendiri. Kadangkala anak semacam ini manja dan malas belajar dan
berfikir dan kurang kreatif, adanya minat belajar kurang dari pergaulan terlalu
bebas tak bisa di kendalikan karena pengaruh lingkungan terlalu bebas.
- Kurang
motivasi dalam belajar
Penyebabnya adalah :
·
kurangnya kemampuan yang dimiliki, kuranganya prasarana, seperti contoh
buku yang masih minim.
- Sulit
memperhatikan
Penyebabnya adalah :
·
Anak yang sulit memperhatikan yang sering kali dari faktor materi yang
tidak menyenangkan atau anak itu tidak suka terhadap materi yang diajarkan dan
tidak suka terhadap guru yang mengajar karena biasanya kalau murid tidak suka
memperhatikan sampai-sampai guru yang mengajar tidak di sukai. Sebaliknya kalau
materinya menarik dan anak suka otomatis gurunya pun di senangi.
- Daya
ingat yang lemah
Penyebabnya adalah :
·
Dari faktor keturunan dan lingkungan
atau Biologis dan kurang diasah.
·
Jadwal tidur yang tidak baik
·
Deprese merupakan penyebab yang melemahkan daya ingat
- Berfikir
lambat
Penyebabnya adalah :
·
Tidak pernah mencoba untuk berfikir secara cepat ini juga di sebabkan
perbedaan character manusia ada yang daya pikirnya cepat ada yang daya pikirnya
lambat( split personality), lambat dalam berfikir,dan mengacu kepada lambat
dalam berprilaku,dan berusaha sesungguhnya merupakan penyakit fisik akibat dari
adanya disfungsi sel-sel otak, sekalipun gejala- gejalanya tampak dalam
pikiran, perasaan dan prilaku.
·
- Anak
yang suka membolos
Penyebabnya adalah :
·
Salah satu penyebabnya adalah tidak suka terhadap materi yang di sampaikan
terutama pelajaran yang banyak di takuti siswa seperti pelajaran berhitung ,
matimatika, fisika, dan kimia terutama bahasa inggris bagi anak yang tidak
sekali minat belajar bahasa.
- Anak
yang minder
Penyebabnya adalah :
·
Kurangnya percaya diri
·
Sering nya malu terhadap teman teman yang memiliki kemampuan di atas
rata-rata.
·
Salah satu hal keterbatasan kemampuan yang di miliki.
·
Anak ini minder biasanya yang sering kita temukan adalah anak yang tidak
normal, dari segi bentuk pisik
- Anak
yang suka tidur di dalam kelas
Penyebabnya adalah :
·
anak yang suka tidur biasa biasanya di sebabkan oleh pactor kebiasaan
apalagi kalau jam terakhir, dan suka begadang di malam hari sehingga anak itu
tida konsentrasi di dalam belajar. Dan biasanya guru jengkel melihat anak yang
suka tidur dan seorang guru memberikan semacam sangsi yaitu berupa berdiri di
depan kelas ada solusi yang lebih tepat dari itu.
- Masalah
siswa yang biasanya muncul dalam bentuk perilaku
- Perilaku Bermasalah (problem
behavior). Masalah perilaku yang dialami siswa di sekolah dapat dikatakan masih
dalam kategori wajar jika tidak merugikan dirinya sendiri dan orang lain.
Dampak perilaku bermasalah yang dilakukan siswa akan menghambat dirinya
dalam proses sosialisasinya dengan siswa lain, dengan guru, dan dengan masyarakat.
Perilaku malu dalam mengikuti berbagai aktivitas yang digelar sekolah,
termasuk dalam kategori perilaku bermasalah yang menyebabkan seorang siswa
mengalami kekurangan pengalaman. Jadi problem behaviour akan merugikan
secara tidak langsung pada seorang siswa di sekolah akibat perilakunya
sendiri.
- Perilaku menyimpang (behaviour
disorder). Perilaku menyimpang pada siswa merupakan perilaku yang kacau yang
menyebabkan seorang siswa kelihatan gugup (nervous) dan perilakunya tidak
terkontrol (uncontrol). Perilaku menyimpang pada siswa akan mengakibatkan
munculnya tindakan tidak terkontrol yang mengarah pada tindakan kejahatan.
Penyebab behaviour disorder lebih banyak karena persoalan psikologis yang
selalu menghantui dirinya.
- Penyesuaian diri yang salah
(behaviour maladjustment). Perilaku yang tidak sesuai yang dilakukan siswa biasanya didorong
oleh keinginan mencari jalan pintas dalam menyelesaikan sesuatu tanpa
mendefinisikan secara cermat akibatnya. Perilaku menyontek, bolos, dan
melangar peraturan sekolah merupakan contoh penyesuaian diri yang salah
pada siswa di sekolah.
- Perilaku tidak dapat membedakan benar-salah (conduct
disorder). Kecenderungan
pada sebagian siswa adalah tidak mampu membedakan antara perilaku benar
dan salah. Wujud dari conduct disorder adalah munculnya cara pikir dan
perilaku yang kacau dan sering menyimpang dari aturan yang berlaku di
sekolah. Penyebabnya, karena sejak kecil orangtua tidak bisa membedakan
perilaku yang benar dan salah pada anak. Wajarnya, orang tua harus mampu
memberikan hukuman (punisment) pada anak saat ia memunculkan perilaku yang
salah dan memberikan pujian atau hadiah (reward) saat anak memunculkan
perilaku yang baik atau benar.
- Attention Deficit Hyperactivity
disorder, yaitu anak yang mengalami defisiensi dalam perhatian dan tidak dapat
menerima impul-impuls sehingga gerakan-gerakannya tidak dapat terkontrol
dan menjadi hyperactif. Siswa di sekolah yang hyperactif biasanya
mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian sehingga tidak dapat
menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepadanya atau tidak dapat
berhasil dalam menyelesaikan tugasnya. Jika diajak berbicara, siswa yang
hyperactif tersebut tidak memperhatikan lawan bicaranya. Selain itu, anak
hyperactif sangat mudah terpengaruh oleh stimulus yang datang dari luar
serta mengalami kesulitan dalam bermain bersama dengan temannya.
Peranan Lembaga Pendidikan untuk tidak segera mengadili dan
menuduh siswa sebagai sumber segala masalah dalam kehidupan di masyarakat
sangat membantu dalam mencari jalan keluar untuk pemecahan masalah yang
dihadapi saat ini.
Pertama, lembaga keluarga adalah lembaga pendidikan yang utama dan
pertama.
Kehidupan kelurga yang kering, terpecah-pecah (broken home), dan tidak harmonis akan menyebebkan anak tidak betah tinggal di rumah. Anak tidak merasa aman dan tidak mengalami perkembangan emosional yang seimbang. Akibatnya, anak mencari bentuk ketentraman di luar keluarga, misalnya gabung dalam group gang, kelompok preman dan lain-lain.
Kehidupan kelurga yang kering, terpecah-pecah (broken home), dan tidak harmonis akan menyebebkan anak tidak betah tinggal di rumah. Anak tidak merasa aman dan tidak mengalami perkembangan emosional yang seimbang. Akibatnya, anak mencari bentuk ketentraman di luar keluarga, misalnya gabung dalam group gang, kelompok preman dan lain-lain.
Kedua, bagaimana pembinaan moral dalam lembaga keluarga, sekolah, dan
masyarakat.
Kontras tajam antara ajaran dan teladan nyata dari orang tua, guru di sekolah, dan tokoh-tokoh panutan di masyarakat akan memberikan pengaruh yang besar kepada sikap, perilaku, dan moralitas para siswa. Kurang adanya pembinaan moral yang nyata dan pudarnya keteladanan para orangtua ataupun pendidik di sekolah menjadi faktor kunci dalam proses perkembangan kepribadian siswa. Segi pembinaan moral menjadi terlupakan pada saat orang tua ataupun pendidik hanya memperhatikan segi intelektual. Pendidikan disekolah terkadang terjerumus pada formalitas pemenuhan kurikulum pendidikan, mengejar bahan ajaran, sehingga melupakan segi pembinaan kepribadian penanaman nilai-nilai pendidikan moral dan pembentukan sikap.
Kontras tajam antara ajaran dan teladan nyata dari orang tua, guru di sekolah, dan tokoh-tokoh panutan di masyarakat akan memberikan pengaruh yang besar kepada sikap, perilaku, dan moralitas para siswa. Kurang adanya pembinaan moral yang nyata dan pudarnya keteladanan para orangtua ataupun pendidik di sekolah menjadi faktor kunci dalam proses perkembangan kepribadian siswa. Segi pembinaan moral menjadi terlupakan pada saat orang tua ataupun pendidik hanya memperhatikan segi intelektual. Pendidikan disekolah terkadang terjerumus pada formalitas pemenuhan kurikulum pendidikan, mengejar bahan ajaran, sehingga melupakan segi pembinaan kepribadian penanaman nilai-nilai pendidikan moral dan pembentukan sikap.
Ketiga, kehidupan sosial
ekonomi keluarga apakah mendukung perkembangan siswa atau tidak.Saat ini,
banyak anak-anak di kota-kota besar seperti Jakarta sudah merasakan kemewahan
yang berlebihan. Segala keinginannya dapat dipenuhi oleh orangtuanya. Pemenuhan
kebutuhan materiil selalu tidak disesuaikan dengan kondisi dan usia
perkembangan anak. Akibatnya, anak cenderung menjadi sok malas, sombong, dan
suka meremehkan orang lain.
Keempat, peran lembaga
sekolah dalam memberikan bobot yang profesional antara perkembangan kognitif,
afektif dan psikomotorik anak. Siswa tidak hanya belajar di sekolah, tetapi
juga dipaksa oleh orangtua untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di sekolah
dan mengikuti les tambahan di luar sekolah. Faktor kelelahan, kemampuan fisik
dan kemampuan inteligensi yang terbatas pada seorang anak sering tidak
diperhitungkan oleh orangtua. Akibatnya, anak-anak menjadi kecapaian dan over
acting, dan mengalami pelampiasan kegembiraan yang berlebihan pada saat mereka
selesai menghadapi suasana yang menegangkan dan menekan dalam kehidupan di
sekolah.
Kelima, bagaimana pengaruh
tayangan media massa baik media cetak maupun elektronik yang acapkali
menonjolkan unsur kekerasan dan diwarnai oleh berbagai kebrutalan.
Pengaruh-pengaruh tersebut maka munculah kelompok-kelompok siswa, geng-geng yang berpakaian serem dan bertingkah laku menakutkan .
Pengaruh-pengaruh tersebut maka munculah kelompok-kelompok siswa, geng-geng yang berpakaian serem dan bertingkah laku menakutkan .
Minat seseorang
terhadap pelajaran dapat dilihat dari kecendrungan untuk memberikan perhatian
yang lebih besar terhadap pelajaran tersebut. Bila seseorang mempunyai minat
yang lebih besar terhadap pelajaran maka nilai hasil belajarnya cenderung
berubah kearah yang lebih baik. Sedangkan menurut Djarmah (2002: 157)
menyebutkan “Minat belajar cenderung menghasilkan prestasi yang tinggi,
sebaliknya minat belajar yang kurang akan menghasilkan prestasi belajar yang
rendah. Minat merupakan penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri
dengan sesuatu diluar diri dapat berupa seseorang, suatu obyek, suatu situasi,
suatu aktivitas dan lain sebagainya. Minat tersebut dapat meningkat menjadi
besar apabila hubungan tersebut semakin kuat dan dekat.
Hakikat kebiasaan
belajar yang buruk. Menurut Roida dalam Jurnal Formatif (2012:126) Kebiasaan adalah serangkaian
perbuatan seseorang secara berulang-ulang untuk hal yang sama dan berlangsung
tanpa proses berfikir lagi. Berdasarkan pengertian tersebut maka dapat dipahami
bahwa kebiasaan belajar merupakan prilaku siswa yang di tunjukkan secara
berulang tanpa proses berfikir lagi dalam kegiatan belajar yang dilakukannya.
Kebiasaan terbentuk
melalui enam tahapan yang diungkapkan oleh Elfiky (2008:88) mengemukakan bahwa,
“kebiasaan terbentuk melalui enam tahapan yaitu berfikir, perekaman,
pengulangan, penyimpangan, pengulangan, dan kebiasaan”. Dalam penjelasannya
lebih lanjut Elfiky menjelaskan, dalam tahapan berfikir seseorang memikirkan
sesuatu, memberi perhatian, dan berkonsentrasi padanya. Selanjutnya, tahap
perekaman adalah ketika seseorang memikirkan sesuatu dan otaknya merekam. Dalam
tahap pengulangan, seseorang memutuskan untuk mengulang perilaku yang sama
dengan perasaan yang sama. Setelah mengulang, sesorang akan menyimpannya dalam
file dan menghadirkannya setiap kali menghadapi kondisi serupa. Terakhir tahap
pengulangan, dalam tahp ini, disadari atau tidak, seseorang mengulang kembali
perilaku yang tersimpan kuat di dalam akal bawah sadarnya.
Siswa merupakan salah satu komponen pendidikan di sekolah,
untuk itu perlu mendapat perhatian yang besar dari lingkungan pendidikannya. Kadang-kadang seorang siswa menghadapi
permasalahan yang kompleks yang dapat mempengaruhi prestasi belajarnya di sekolah. Problematika yang dihadapi siswa
merupakan masalah yang sangat penting yang harus diketahui guru.
Kesulitan belajar tersebut dapat disebabkan oleh beberapa
faktor, misalnya faktor kesehatan, keadaan sosial, keadaan keluarga
atau pergaulan, dan berbagai macam masalah pribadi lainnya. Faktor-faktor yang
penyebab terjadinya kesulitan belajar tersebut tidak dapat dihindari oleh
setiap siswa, oleh karena itu tugas guru sebagai tenaga pendidik dan pembimbing
sangat berperan dalam memberikan siswa pertimbangan pemecahan masalah yang
dialami.
Selanjutnya, guru harus memahami dan
mengetahui lebih mendalam keadaan siswa, tingkah laku, latar belakang, dan
kesulitan atau permasalahan yang dihadapinya. Seorang guru harus mampu memberikan pertimbangan pemecahan atau jalan penyelesaiannya, agar siswadapat menentukan pemecahan masalah yang terbaik bagi kesulitan yang sedang
dihadapi. Dalam memberikan
bantuan dan pertimbangan guru juga harus memperhatikan aspek-aspek yang
meliputi pribadi siswa yang bermasalah, antara lain kedewasaan; bakat; kemampuan;
lingkungan; dan sebagainya. Hal ini dimaksudkan agar siswa yang diberi bantuan dan pertimbangan pemecahan masalah dapat menentukan pemecahan masalah yang dihadapinya secara tepat.
Di antara proses memperoleh informasi dan membantu siswa yang bermasalah
antara lain melalui analisis kesulitan belajar. Kesulitan
merupakan suatu kondisi tertentu yang ditandai dengan adanya hambatan-hambatan
dalam kegiatan mencapai tujuan, sehingga memerlukan usaha lebih giat lagi untuk
dapat mengatasi. Kesulitan belajar dapat diartikan sebagai suatu
kondisi dalam suatu proses belajar yang ditandai adanya hambatan-hambatan
tertentu untuk mencapai hasil belajar.
Melihat pentingnya peningkatan hasil belajar bagi seorang siswa, maka
dituntut untuk lebih berkonsentrasi dalam menerima pelajaran. Untuk memenuhi
tuntutan itu siswa harus dalam keadaan tenang dan nyaman. Sedangkan guru harus
dapat mengidentifikasi segala permasalahan yang dihadapi oleh siswa. Siswa yang
memiliki masalah seperti kurang motivasi belajar, kurang berkonsentrasi, kurang
percaya diri, kurang bisa membagi waktu dan tidak bisa bersosialisasi harus
diberikan dukungan dan bantuan untuk memecahkan masalahnya dengan pemberian
pertimbangan pemecahan masalah yang tepat.
Salah satu contoh kesulitan siswa dalam
belajar disekolah ialah pada saat belajar pembelajaran matematika, mindset dan
pola pikir siswa yang menganggap bahwa matematika itu susah. Leonard dalam
Jurnal Formatif Jurnal Ilmiah Pendidikan MIPA (2013: 98). “Prestasi matematika
yang rendah adalah bukti masih banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam
menyelesaikan soal matematika. Padahal, matematika yang merupakan ilmu yang
universal, yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran
penting dalam berbagai disiplin dan mengembangkan daya pikiar manusia.
Salah satu faktor siswa mengalami
kesulitan adalah kurangnya persiapan. Hal ini dikarenakan siswa tersebut tidak
memiliki kesiapan untuk menghadapi matematika dalam level yang lebih tinggi.
Selain itu, masih adanya sistem belajar yang menyamaratkan kemampuan siswa
menjadi penyebab siswa tersebut merasa matematika itu sulit. Dari permasalahan
inilah, matematika sering menjadi momok yang menakutkan. Momok inilah yang
membuat nilai matematika rendah.
Kemungkinan ketidaksiapan siswa dalam
menyelesaikan soal matematika, salah satu faktornya adalah karena siswa
tersebut tidak memiliki konsentrasi diri yang baik. Karena, pada hakikinya,
setiap siswa memiliki konsistensi diri namun intensitasnya yang berbeda.
Konsistensi diri adalah ketetapan hati akan prinsip yang telah ditetapkan oleh
dirinya sendiri. Konsistensi diri juga berarti bahwa seseorang menjalankan apa
yang telah ia ucapkan, atau dapat juga dikatakan melakukan suatu hal yang
serupa dalam dan kondisi yang hampir sama”.
- Solusi terhadap siswa dalam
penyelesaian masalah
1. Anak
yang sulit memahami
Solusinya adalah
· membuat dan membangun anak untuk biasa
hidup disiplin dan mandiri maka harus dimulai dari lingkungan keluarga secara
khusus dan lingkungan sekitarnya secara umum.
· Kalau dari lingkungan pendidikan anak
itu di berikan pengulangan kepada materi yang belum dia pahami / anak itu
diberi penjelasan pelan-pelan sehingga anak itu bisa paham terhadap apa yang
belum di pahaminya.
2. Anak
yang bodoh
Solusinya adalah
· Selalu memberikan perhatian yang lebih
kepada anak yang bodoh, memberikan saran, motivasi dan selalu memberikan cara
yang mudah di dalam belajar agar mudah dipahami, dan memberikan cara yang
terbaik sesuai denga kemampuan anak itu sendiri.
3. Anak
yang nakal
Solusinya adalah :
· Pada dasarnya anak semacam ini kurang
terkontrol, baik dari lingkungan mereka atau dari tempat mereka
belajar. Anak yang nakal itu bisa diakibatkan dari kurangnya seorang guru
melihat dan mengamati character anak dan sifat anak itu sendiri. Pada dasarnya
apabila anak itu sudah di dekati maka anak itu akan manut dan patuh.
4. Anak yang pemalu
Solusinya,
· Tidak segampang itu kita merubahnya. Ini
perlu perlahan-lahan. Anak semacam ini kita ajak belajar di ruangan terbuka dan
kemudian dia bisa bertanya dengan leluasa karena bebas. Bisa saja apa yang
ditanyakan itu biasa-biasa saja, tetapi lewat itu kita bisa melatih anak itu
untuk bertanya supaya tidak malu dan hal tersebut perlu dilakukan
berulang-ulang sampai anak itu percaya diri.
5. Anak yang malas.
Solusinya adalah
· Anak seperti ini jangan di biarkan
terlalu bebas dan jangan di biarkan bermalas-malasan. Biasanya anak yang malas
tidak tau apa yang harus dikerjakan sehingga apa yang harus dikerjakan dia
lalai dan lupa akan kewajibannya. Kita bisa merubahnya dengan sebuah tindakan
dengan memberikan sebuah stimulus yaitu: rangsangan sehingga anak itu bisa
terpacu,dan nasehat yang bersifat mendidik.
6.
Kurang motivasi dalam belajar.
Solusinya
· Anak yang kurang termotivasi selama belajar
pada awalnya kita harus memberikan perlakuan yang khusus
7.
Sulit memperhatikan
Solusinya
· Anak harus di berikan semacam rangsangan
terlebih dahulu supaya bagaimana anak itu senang dulu dan membangkitkan rasa
keingintahuannya sehingga anak pada akhirnya memperhatikan, karena guru
memberikan metode belajar dengan cara menarik dan membangkitkan rasa ingin tahu
anak.
8.
Daya ingat yang lemah
Solusinya
· Ingatan yang lemah sering kali di tinjau
dari faktor keturunan dan ingatan yang lemah biasanya kurangnya mengulang apa
yang di pelajari dan biasanya tidak membiasakan diri.
· Latih
pikiran anda dengan permainan-permainan.
Semakin anda menggunakan keistimewaan otak, semakin anda
membantu daya ingat anda tetap bugar. Ada banyak permainan yang membangkitkan
kemampuan intelektual anda, sekaligus juga berkontribusi untuk hubungan sosial
yang lebih baik. Backgammon, catur, teka-teki dan banyak permainan papan
lainnya, menawarkan hiburan dan juga membantu anda meningkatkan daya ingat
9. Berfikir lambat
Solusinya
· Melatih otak untuk terus menerus untuk
berfikir cepat dan menghapal cepat kalau sudah terbiasa maka kebiasaan perfikir
lambat Akan hilang belahan lahan intinya kita harus bayak menggali potensi otak
selama ini yang kita miliki yaitu meninggalkan hal hal yang lambat kita lakukan
maka kita lakukan dengan cepat dan tertata.
10. Anak yang
suka membolos.
Solusinya
· Salah satu jalan keluarnya adalah
bagiamana seorang guru mampu mengkondisikan kelas dengan baik atau
mengorganisir siswa supaya siswa itu tertarik di dalam belajar dan tidak
membolos memang ini suatu hal yang sulit tetapi kita harus terus mencoba. Cara
melalui pendekataan baik sekali guru itu mampu meluluhkan anak yang tadi nya
suka bolos tidak bolos lagi dengan cara guru itu di setiap pelajaranya selalu di
berikan perhatian kepada anak ini dengan cara di panggil namanya. Con: Seperti
akhmad tolong ambilkan saya absensi hadir di Kantor nah kemudian si akhamd di
suruh mengkoordidnir kelas tersebut, dengan Cara tolong di absen teman temannya
dan bagi yang tidak masuk atau bolos di centang ternyata tidak ada yang bolos
terus menerus setiap jam pelajaran itu si akhmad berkewajiban mengabsen
temannya dan lambat laun dia tidak bolos lagi. Karena dia atau kewajibanya
setiap masuk kelas siswa di absen oleh dia.
11. Anak
yang minder
Solusinya adalah:
· Di berikan perhatian yang khusus atas
keterbatasanya.
· Harus di perhatikan dengan lebih, dan di
berikan support yang penuh.
· Di berikan semacam tugas yang agag bisa
di kerjakan sesuai dengan kemampuan yang di miliki.
· Bentuk pendekatan yang di lakukan kepada
anak ini harus di bedakan dengan anak lebih.
12. Anak yang suka tidur di setiap jam pelajaran.
Solusinya adalah
- Bagi
seorang guru apabila ada anak yang tidur terutama pada saat jam jam
terakhir maka seorang guru harus bisa membangunkan anak dengan cara yang
jitu yaitu pintar membuat suasana jadi ceria yaitu dengan cara guru harus
pandai membuat gurauan yang bisa membikin anak itu jadi tertawa.
Peran aktif dari ketiga lembaga pendidikan
akan banyak membantu melancarkan pencapaian kepribadian dan pemecahan masalah
yang dewasa bagi para siswa. Ada beberapa hal kunci yang bisa dilakukan oleh
lembaga-lembaga pendidikan.
Pertama, memberikan kesempatan untuk mengadakan
dialog untuk menyiapkan jalan bagi tindakan bersama.
Sikap mau berdialog antara orangtua, pendidik di sekolah, dan masyarakat dengan siswa/remaja pada umumnya adalah kesempatan yang diinginkan para siswa. Menyadari kekurangan ini, lembaga-lembaga pendidikan perlu membuka kesempatan untuk mengadakan dialog dengan para siswa, kaum muda dan anak-anak, entah dalam lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat.
Sikap mau berdialog antara orangtua, pendidik di sekolah, dan masyarakat dengan siswa/remaja pada umumnya adalah kesempatan yang diinginkan para siswa. Menyadari kekurangan ini, lembaga-lembaga pendidikan perlu membuka kesempatan untuk mengadakan dialog dengan para siswa, kaum muda dan anak-anak, entah dalam lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat.
Kedua, menjalin pergaulan yang tulus.
Dewasa ini jumlah orang tua yang bertindak otoriter terhadap anak-anak mereka sudah jauh berkurang. Namun muncul kecenderungan yang sebaliknya, yaitu sikap memanjakan anak secara berlebihan. Banyak orang tua yang tidak berani mengatakan tidak terhadap anak-anak mereka supaya tidak dicap sebagai orangtua yang tidak mempercayai anak-anaknya, untuk tidak dianggap sebagai orangtua kolot, konservatif dan ketinggalan jaman.
Dewasa ini jumlah orang tua yang bertindak otoriter terhadap anak-anak mereka sudah jauh berkurang. Namun muncul kecenderungan yang sebaliknya, yaitu sikap memanjakan anak secara berlebihan. Banyak orang tua yang tidak berani mengatakan tidak terhadap anak-anak mereka supaya tidak dicap sebagai orangtua yang tidak mempercayai anak-anaknya, untuk tidak dianggap sebagai orangtua kolot, konservatif dan ketinggalan jaman.
Ketiga, memberikan pendampingan, perhatian dan
cinta sejati.
Keempat, (disekolah) diberikannya pelatihan khusus terhadap guru agar dapat meberikan pengajaran, bimbingan dan ilmu terhadap siswa dengan baik. Menjadikan siswa sebagai teman akrab, sehingga siswa dalam lingkungan sekolah merasa nyaman dan tidak merasa dibedakan, tsehingga ercptanya siswa yang aktif dalam belajar.
Keempat, (disekolah) diberikannya pelatihan khusus terhadap guru agar dapat meberikan pengajaran, bimbingan dan ilmu terhadap siswa dengan baik. Menjadikan siswa sebagai teman akrab, sehingga siswa dalam lingkungan sekolah merasa nyaman dan tidak merasa dibedakan, tsehingga ercptanya siswa yang aktif dalam belajar.
DAFTAR
PUSTAKA
Ahmadi,
Abu dan Widodo Supriyono. 2004. Psikologi Belajar. Cetakan ke-2. Jakarta :
Rineka
Cipta
http://id.wikipedia.org/wiki/Penyelesaian_masalahhttp://ecinhartina.blogspot.com/2011/05/masalah-masalah-yang-sering-di-hadapi.html
yudykartolo.wordpress.com/2008/02/11/masalah-dan-solusi-remaja-disekolah/
Elfiky,
ibrahim. 2008. Terapi berfikir positif. Jakarta : Penerbit Zaman
yudykartolo.wordpress.com/2008/02/11/masalah-dan-solusi-remaja-disekolah/
Alumni
Universitas Indraprasta. 2013. Jurnal Formatif Jurnal Ilmiah Pendidikan MIPA.
Vol 3.
Jakarta
: Keluarga Alumni Universitas Indraprasta,Fakultas TehnikMIPA, Lembaga
Penelitian
dan Pengabdian Masyarakat UNINDRA PGRI.
Arifin,
Daeng dkk. 2013. Panduan Menjadi Guru Profesional. Bandung : CV. Nuansa Mulia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar