Senin, 12 Mei 2014

artikel "Minimnya siswa dalam pemecahan masalah"

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah

Masalah atau biasa disebut dalam Bahasa Inggris ialah “Problem” yang digunakan untuk menggambarkan suatu keadaan yang bersumber dari hubungan antara dua pihak atau lebih yang menghasilkan situasi membingungkan. Masalah biasanya dianggap sebagai suatu keadaan yang harus diselesaikan. Umumnya masalah disadari “ada” saat seorang individu menyadari keadaan yang ia hadapi tidak sesuai dengan keadaan yang diinginkan.
Prayitno (1985) mengemukakan ciri-ciri masalah ialah:
1. Masalah adalah sesuatu yang tidak disukai adanya.
2. Menimbulkan kesulitan bagi diri sendiri dan atau orang lain.
3. Ingin atau perlu dihilangkan.

Setiap masalah yang dialami seseorang biasanya mengandung satu atau lebih ciri diatas. Untuk mendalami hal tersebut kita dapat melihat diri sendiri sebagai contoh. Adakah suatu hal, kejadian suasana atau gejala yang tidak disukai , yang dapat menimbulkan kesulitan atau kerugian bagi diri sendiri ataupun bagi orang lain atau ingin dihilangkan. Jika ada maka hal itu bisa dikatakan sebagai ciri-ciri adanya masalah pada diri sendiri. Masalah seperti diatas dapat terjadi pada siapa saja, termasuk murid sekolah dasar, menegah maupun atas. Masalah itu perlu diupayakan penanggulangannya.
Prayitno (1985) menyusun serangkaian masalah murid sekolah dasar, menengah dan atas. Masalah-masalah itu diklarifikasikan atas:
  1. masalah terkait dalam kesehatan jasmani
  2. masalah keluarga dan rumah tangga
  3. masalah psikologis
  4. masalah sosial
  5. masalah kesulitan dalam belajar
  6. masalah motivasi dan pendidikan pada umumnya

Masalah masalah belajar memiliki bentuk yang beragam, menurut Prayitno, mengemukakan masalah-masalah belajar sebagai berikut:
1.      kemampuan akademik,
2.      ketercepatan dalam belajar,
3.      sangat lambat dalam belajar,
4.      kurang motivasi dalam belajar,
5.      bersikap dan berkebiasaan buruk dalam belajar,

Penyelesaian atau pemecahan masalah adalah bagian dari proses. sering dianggap merupakan proses paling kompleks diantara semua fungsi, pemecahan masalah telah didefinisikan sebagai proses “kognitif” tingkat tinggi yang memerlukan modulasi dan kontrol dari keterampilan-keterampilan rutin atau dasar. Proses ini terjadi  jika suatu organisme atau sistem kecerdasan buatan yang tidak mengetahui bagaimana untuk bergerak dari suatu kondisi awal menuju kondisi yang di tuju.
Permasalahan yang di hadapi siswa cukup kompleks diantaranya ketidak disiplinan dalam belajar yang menimbulkan kesulitan siswa itu sendiri. Keberhasilan siswa dalm belajar  di tunjang faktor internal dan external. Adanya faktor internal dan external ini akan membantu guru dalam memahami kondisi siswa pada proses belajar terhadap memenuhi permasalahan. Untuk memenuhi permasalahan siswa salah satunya yaitu melalui studi kasus. 
Alasan mengapa saya mengambil topik ini dikarenakan siswa kurang aktif dan belum bisa memecahkan masalah. Memecahkan masalah yang di maksud ialah dalam mengerjakan tugas, memecahkan masalah dalam diri sendiri untuk konsentrasi penuh dalam belajar, memecahkan masalah dalam hidup disiplin, memecahkan masalah dalam mengatur waktu belajar dengan bermain, memecahkan masalah dalam mengerjakan tugas rumah yang diberikan oleh guru terutama jikalau tugas tersebut mengenai kreativitas, karena kurang nya perhatian, motivasi dan dukungan dari orang tua sehingga anak di bangku sekolah kurang bisa dan aktif dalam memecahkan masalah.
 Penyelesaian masalah dapat diatasi sendiri atau dengan bantuan orang atau pihak lain. Untuk masalah atau kasus yang berat perlu dilakukan suatu studi kasus untuk penyelesaiannya. Bimbingan dan konseling untuk menyelesaikan masalah tertentu yang cukup berat menggunakan metode studi kasus.
Penggunaan kata “kasus” dalam bimbingan dan konseling tidak menjurus kepada pengertian-pengertian atau tindak-tindak kriminal atau perdata. Kata kasus digunakan untuk menunjukkan bahwa ada sesuatu permasalahan yang sangat kompleks pada diri seseorang yang perlu mendapatkan perhatian dan pemecahan demi kebaikan orang yang bersangkutan.

  1. Masalah yang sering dihadapi siswa dalam proses belajar mengajar

  1. Anak yang sulit memahami
Penyebabnya adalah  :
·         Faktor lingkungan
·         Anak yang sulit memahami dikarenakan kelas tidak nyaman dan tidak kondusif
  1. Anak yang bodoh
Penyebabnya adalah :
·         Kurang belajar, kurang disiplin, kurang memanfaatkan waktu, kurangnya memperhatikan, kurangnya mengulang pelajaran, tidak ada rasa percaya diri, banyak bermain menyampingkan pelajaran, malas.
  1. Anak yang nakal
Penyebabnya adalah :
·         Pengaruh lingkungan yang kurang baik, perhatian orang tua yang kurang terhadap anak, pergaulan, kurang terkontrol.
  1. Anak yang pemalu
Peyebabnya adalah :
·         Biasanya dari faktor anak itu sendiri, dan apabila tidak dirubah maka akan selamanya anak itu jadi pemalu terus, tetapi anak yang pemalu bukannya tidak bisa, mungkin ada faktor lain.
  1. Anak yang pemalas
Penyebabnya adalah :
·         kurangnya daya semangat dan motivasi,dan kurang terkontrol di dalam lingkungannya sendiri. Kadangkala anak semacam ini manja dan malas belajar dan berfikir dan kurang kreatif, adanya minat belajar kurang dari pergaulan terlalu bebas tak bisa di kendalikan karena pengaruh lingkungan terlalu bebas.
  1. Kurang motivasi dalam belajar
Penyebabnya adalah :
·         kurangnya kemampuan yang dimiliki, kuranganya prasarana, seperti contoh buku yang masih minim.
  1. Sulit memperhatikan
Penyebabnya adalah :
·         Anak yang sulit memperhatikan yang sering kali dari faktor materi yang tidak menyenangkan atau anak itu tidak suka terhadap materi yang diajarkan dan tidak suka terhadap guru yang mengajar karena biasanya kalau murid tidak suka memperhatikan sampai-sampai guru yang mengajar tidak di sukai. Sebaliknya kalau materinya menarik dan anak suka otomatis gurunya pun di senangi.
  1. Daya ingat yang lemah
Penyebabnya adalah :
·         Dari faktor keturunan dan lingkungan  atau Biologis dan kurang diasah.
·         Jadwal tidur yang tidak baik
·         Deprese merupakan penyebab yang melemahkan daya ingat

  1. Berfikir lambat
Penyebabnya adalah :
·         Tidak pernah mencoba untuk berfikir secara cepat ini juga di sebabkan perbedaan character manusia ada yang daya pikirnya cepat ada yang daya pikirnya lambat( split personality), lambat dalam berfikir,dan mengacu kepada lambat dalam berprilaku,dan berusaha sesungguhnya merupakan penyakit fisik akibat dari adanya disfungsi sel-sel otak, sekalipun gejala- gejalanya tampak dalam pikiran, perasaan dan prilaku.
·          
  1. Anak yang suka membolos
Penyebabnya adalah :
·         Salah satu penyebabnya adalah tidak suka terhadap materi yang di sampaikan terutama pelajaran yang banyak di takuti siswa seperti pelajaran berhitung , matimatika, fisika, dan kimia terutama bahasa inggris bagi anak yang tidak sekali minat belajar bahasa.
  1. Anak yang minder
Penyebabnya adalah :
·         Kurangnya percaya diri
·         Sering nya malu terhadap teman teman yang memiliki kemampuan di atas rata-rata.
·         Salah satu hal keterbatasan kemampuan yang di miliki.
·         Anak ini minder biasanya yang sering kita temukan adalah anak yang tidak normal, dari segi bentuk pisik
  1. Anak yang suka tidur di dalam kelas
Penyebabnya adalah :
·         anak yang suka tidur biasa biasanya di sebabkan oleh pactor kebiasaan apalagi kalau jam terakhir, dan suka begadang di malam hari sehingga anak itu tida konsentrasi di dalam belajar. Dan biasanya guru jengkel melihat anak yang suka tidur dan seorang guru memberikan semacam sangsi yaitu berupa berdiri di depan kelas ada solusi yang lebih tepat dari itu.

  1. Masalah siswa yang biasanya muncul dalam bentuk perilaku

  1. Perilaku Bermasalah (problem behavior). Masalah perilaku yang dialami siswa di sekolah dapat dikatakan masih dalam kategori wajar jika tidak merugikan dirinya sendiri dan orang lain. Dampak perilaku bermasalah yang dilakukan siswa akan menghambat dirinya dalam proses sosialisasinya dengan siswa lain, dengan guru, dan dengan masyarakat. Perilaku malu dalam mengikuti berbagai aktivitas yang digelar sekolah, termasuk dalam kategori perilaku bermasalah yang menyebabkan seorang siswa mengalami kekurangan pengalaman. Jadi problem behaviour akan merugikan secara tidak langsung pada seorang siswa di sekolah akibat perilakunya sendiri.

  1. Perilaku menyimpang (behaviour disorder). Perilaku menyimpang pada siswa merupakan perilaku yang kacau yang menyebabkan seorang siswa kelihatan gugup (nervous) dan perilakunya tidak terkontrol (uncontrol). Perilaku menyimpang pada siswa akan mengakibatkan munculnya tindakan tidak terkontrol yang mengarah pada tindakan kejahatan. Penyebab behaviour disorder lebih banyak karena persoalan psikologis yang selalu menghantui dirinya.

  1. Penyesuaian diri yang salah (behaviour maladjustment). Perilaku yang tidak sesuai yang dilakukan siswa biasanya didorong oleh keinginan mencari jalan pintas dalam menyelesaikan sesuatu tanpa mendefinisikan secara cermat akibatnya. Perilaku menyontek, bolos, dan melangar peraturan sekolah merupakan contoh penyesuaian diri yang salah pada siswa di sekolah.

  1. Perilaku tidak dapat membedakan benar-salah (conduct disorder). Kecenderungan pada sebagian siswa adalah tidak mampu membedakan antara perilaku benar dan salah. Wujud dari conduct disorder adalah munculnya cara pikir dan perilaku yang kacau dan sering menyimpang dari aturan yang berlaku di sekolah. Penyebabnya, karena sejak kecil orangtua tidak bisa membedakan perilaku yang benar dan salah pada anak. Wajarnya, orang tua harus mampu memberikan hukuman (punisment) pada anak saat ia memunculkan perilaku yang salah dan memberikan pujian atau hadiah (reward) saat anak memunculkan perilaku yang baik atau benar.

  1. Attention Deficit Hyperactivity disorder, yaitu anak yang mengalami defisiensi dalam perhatian dan tidak dapat menerima impul-impuls sehingga gerakan-gerakannya tidak dapat terkontrol dan menjadi hyperactif. Siswa di sekolah yang hyperactif biasanya mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian sehingga tidak dapat menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepadanya atau tidak dapat berhasil dalam menyelesaikan tugasnya. Jika diajak berbicara, siswa yang hyperactif tersebut tidak memperhatikan lawan bicaranya. Selain itu, anak hyperactif sangat mudah terpengaruh oleh stimulus yang datang dari luar serta mengalami kesulitan dalam bermain bersama dengan temannya.

Peranan Lembaga Pendidikan untuk tidak segera mengadili dan menuduh siswa sebagai sumber segala masalah dalam kehidupan di masyarakat sangat membantu dalam mencari jalan keluar untuk pemecahan masalah yang dihadapi saat ini.
Pertama, lembaga keluarga adalah lembaga pendidikan yang utama dan pertama.
Kehidupan kelurga yang kering, terpecah-pecah (broken home), dan tidak harmonis akan menyebebkan anak tidak betah tinggal di rumah. Anak tidak merasa aman dan tidak mengalami perkembangan emosional yang seimbang. Akibatnya, anak mencari bentuk ketentraman di luar keluarga, misalnya gabung dalam group gang, kelompok preman dan lain-lain.

Kedua, bagaimana pembinaan moral dalam lembaga keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Kontras tajam antara ajaran dan teladan nyata dari orang tua, guru di sekolah, dan tokoh-tokoh panutan di masyarakat akan memberikan pengaruh yang besar kepada sikap, perilaku, dan moralitas para siswa. Kurang adanya pembinaan moral yang nyata dan pudarnya  keteladanan para orangtua ataupun pendidik di sekolah menjadi faktor kunci dalam proses perkembangan kepribadian siswa. Segi pembinaan moral menjadi terlupakan pada saat orang tua ataupun pendidik hanya memperhatikan segi intelektual. Pendidikan disekolah terkadang terjerumus pada formalitas pemenuhan kurikulum pendidikan, mengejar bahan ajaran, sehingga melupakan segi pembinaan kepribadian penanaman nilai-nilai pendidikan moral dan pembentukan sikap.

Ketiga, kehidupan sosial ekonomi keluarga apakah mendukung perkembangan siswa atau tidak.Saat ini, banyak anak-anak di kota-kota besar seperti Jakarta sudah merasakan kemewahan yang berlebihan. Segala keinginannya dapat dipenuhi oleh orangtuanya. Pemenuhan kebutuhan materiil selalu tidak disesuaikan dengan kondisi dan usia perkembangan anak. Akibatnya, anak cenderung menjadi sok malas, sombong, dan suka meremehkan orang lain.

Keempat, peran lembaga sekolah dalam memberikan bobot yang profesional antara perkembangan kognitif, afektif dan psikomotorik anak. Siswa tidak hanya belajar di sekolah, tetapi juga dipaksa oleh orangtua untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di sekolah dan mengikuti les tambahan di luar sekolah. Faktor kelelahan, kemampuan fisik dan kemampuan inteligensi yang terbatas pada seorang anak sering tidak diperhitungkan oleh orangtua. Akibatnya, anak-anak menjadi kecapaian dan over acting, dan mengalami pelampiasan kegembiraan yang berlebihan pada saat mereka selesai menghadapi suasana yang menegangkan dan menekan dalam kehidupan di sekolah.

Kelima, bagaimana pengaruh tayangan media massa baik media cetak maupun elektronik yang acapkali menonjolkan unsur kekerasan dan diwarnai oleh berbagai kebrutalan.
Pengaruh-pengaruh tersebut maka munculah kelompok-kelompok siswa, geng-geng yang berpakaian serem dan bertingkah laku menakutkan .
Minat seseorang terhadap pelajaran dapat dilihat dari kecendrungan untuk memberikan perhatian yang lebih besar terhadap pelajaran tersebut. Bila seseorang mempunyai minat yang lebih besar terhadap pelajaran maka nilai hasil belajarnya cenderung berubah kearah yang lebih baik. Sedangkan menurut Djarmah (2002: 157) menyebutkan “Minat belajar cenderung menghasilkan prestasi yang tinggi, sebaliknya minat belajar yang kurang akan menghasilkan prestasi belajar yang rendah. Minat merupakan penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu diluar diri dapat berupa seseorang, suatu obyek, suatu situasi, suatu aktivitas dan lain sebagainya. Minat tersebut dapat meningkat menjadi besar apabila hubungan tersebut semakin kuat dan dekat.
Hakikat kebiasaan belajar yang buruk. Menurut Roida dalam Jurnal Formatif  (2012:126) Kebiasaan adalah serangkaian perbuatan seseorang secara berulang-ulang untuk hal yang sama dan berlangsung tanpa proses berfikir lagi. Berdasarkan pengertian tersebut maka dapat dipahami bahwa kebiasaan belajar merupakan prilaku siswa yang di tunjukkan secara berulang tanpa proses berfikir lagi dalam kegiatan belajar yang dilakukannya.
Kebiasaan terbentuk melalui enam tahapan yang diungkapkan oleh Elfiky (2008:88) mengemukakan bahwa, “kebiasaan terbentuk melalui enam tahapan yaitu berfikir, perekaman, pengulangan, penyimpangan, pengulangan, dan kebiasaan”. Dalam penjelasannya lebih lanjut Elfiky menjelaskan, dalam tahapan berfikir seseorang memikirkan sesuatu, memberi perhatian, dan berkonsentrasi padanya. Selanjutnya, tahap perekaman adalah ketika seseorang memikirkan sesuatu dan otaknya merekam. Dalam tahap pengulangan, seseorang memutuskan untuk mengulang perilaku yang sama dengan perasaan yang sama. Setelah mengulang, sesorang akan menyimpannya dalam file dan menghadirkannya setiap kali menghadapi kondisi serupa. Terakhir tahap pengulangan, dalam tahp ini, disadari atau tidak, seseorang mengulang kembali perilaku yang tersimpan kuat di dalam akal bawah sadarnya.
Siswa merupakan salah satu komponen pendidikan di sekolah, untuk itu perlu mendapat perhatian yang besar dari lingkungan pendidikannya. Kadang-kadang seorang siswa menghadapi permasalahan yang kompleks yang dapat mempengaruhi prestasi belajarnya di sekolah. Problematika yang dihadapi siswa merupakan masalah yang sangat penting yang harus diketahui guru.
Kesulitan belajar tersebut dapat disebabkan oleh beberapa faktor, misalnya faktor kesehatan, keadaan sosial,  keadaan keluarga atau pergaulan, dan berbagai macam masalah pribadi lainnya. Faktor-faktor yang penyebab terjadinya kesulitan belajar tersebut tidak dapat dihindari oleh setiap siswa, oleh karena itu tugas guru sebagai tenaga pendidik dan pembimbing sangat berperan dalam memberikan siswa pertimbangan pemecahan masalah yang dialami.
Selanjutnya, guru harus memahami dan mengetahui lebih mendalam keadaan siswa, tingkah laku, latar belakang, dan kesulitan atau permasalahan yang dihadapinya. Seorang guru harus mampu memberikan pertimbangan pemecahan atau jalan penyelesaiannya, agar siswadapat menentukan pemecahan masalah yang terbaik bagi kesulitan yang sedang dihadapi. Dalam memberikan bantuan dan pertimbangan guru juga harus memperhatikan aspek-aspek yang meliputi pribadi siswa yang bermasalah, antara lain kedewasaan; bakat; kemampuan; lingkungan; dan sebagainya. Hal ini dimaksudkan agar siswa yang diberi bantuan dan pertimbangan pemecahan masalah dapat menentukan pemecahan masalah yang dihadapinya secara tepat.
Di antara proses memperoleh informasi dan membantu siswa yang bermasalah antara lain melalui analisis kesulitan belajar. Kesulitan merupakan suatu kondisi tertentu yang ditandai dengan adanya hambatan-hambatan dalam kegiatan mencapai tujuan, sehingga memerlukan usaha lebih giat lagi untuk dapat mengatasi.  Kesulitan belajar dapat diartikan sebagai suatu kondisi dalam suatu proses belajar yang ditandai adanya hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar.
Melihat pentingnya peningkatan hasil belajar bagi seorang siswa, maka dituntut untuk lebih berkonsentrasi dalam menerima pelajaran. Untuk memenuhi tuntutan itu siswa harus dalam keadaan tenang dan nyaman. Sedangkan guru harus dapat mengidentifikasi segala permasalahan yang dihadapi oleh siswa. Siswa yang memiliki masalah seperti kurang motivasi belajar, kurang berkonsentrasi, kurang percaya diri, kurang bisa membagi waktu dan tidak bisa bersosialisasi harus diberikan dukungan dan bantuan untuk memecahkan masalahnya dengan pemberian pertimbangan pemecahan masalah yang tepat.
Salah satu contoh kesulitan siswa dalam belajar disekolah ialah pada saat belajar pembelajaran matematika, mindset dan pola pikir siswa yang menganggap bahwa matematika itu susah. Leonard dalam Jurnal Formatif Jurnal Ilmiah Pendidikan MIPA (2013: 98). “Prestasi matematika yang rendah adalah bukti masih banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal matematika. Padahal, matematika yang merupakan ilmu yang universal, yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan mengembangkan daya pikiar manusia.
Salah satu faktor siswa mengalami kesulitan adalah kurangnya persiapan. Hal ini dikarenakan siswa tersebut tidak memiliki kesiapan untuk menghadapi matematika dalam level yang lebih tinggi. Selain itu, masih adanya sistem belajar yang menyamaratkan kemampuan siswa menjadi penyebab siswa tersebut merasa matematika itu sulit. Dari permasalahan inilah, matematika sering menjadi momok yang menakutkan. Momok inilah yang membuat nilai matematika rendah.
Kemungkinan ketidaksiapan siswa dalam menyelesaikan soal matematika, salah satu faktornya adalah karena siswa tersebut tidak memiliki konsentrasi diri yang baik. Karena, pada hakikinya, setiap siswa memiliki konsistensi diri namun intensitasnya yang berbeda. Konsistensi diri adalah ketetapan hati akan prinsip yang telah ditetapkan oleh dirinya sendiri. Konsistensi diri juga berarti bahwa seseorang menjalankan apa yang telah ia ucapkan, atau dapat juga dikatakan melakukan suatu hal yang serupa dalam dan kondisi yang hampir sama”.

  1. Solusi terhadap siswa dalam penyelesaian masalah

1.   Anak yang sulit memahami
Solusinya adalah
·      membuat dan membangun anak untuk biasa hidup disiplin dan mandiri maka harus dimulai dari lingkungan keluarga secara khusus dan lingkungan sekitarnya secara umum.
·      Kalau dari lingkungan pendidikan anak itu di berikan pengulangan kepada materi yang belum dia pahami / anak itu diberi penjelasan pelan-pelan sehingga anak itu bisa paham terhadap apa yang belum di pahaminya.

2.      Anak yang bodoh
Solusinya adalah
·      Selalu memberikan perhatian yang lebih kepada anak yang bodoh, memberikan saran, motivasi dan selalu memberikan cara yang mudah di dalam belajar agar mudah dipahami, dan memberikan cara yang terbaik sesuai denga kemampuan anak itu sendiri.

3.       Anak yang nakal
Solusinya adalah :
·      Pada dasarnya anak semacam ini kurang terkontrol, baik dari lingkungan mereka atau dari tempat mereka belajar. Anak yang nakal itu bisa diakibatkan dari kurangnya seorang guru melihat dan mengamati character anak dan sifat anak itu sendiri. Pada dasarnya apabila anak itu sudah di dekati maka anak itu akan manut dan patuh.

4.   Anak yang pemalu
Solusinya,
·      Tidak segampang itu kita merubahnya. Ini perlu perlahan-lahan. Anak semacam ini kita ajak belajar di ruangan terbuka dan kemudian dia bisa bertanya dengan leluasa karena bebas. Bisa saja apa yang ditanyakan itu biasa-biasa saja, tetapi lewat itu kita bisa melatih anak itu untuk bertanya supaya tidak malu dan hal tersebut perlu dilakukan berulang-ulang sampai anak itu percaya diri.

5.   Anak yang malas.
Solusinya adalah
·      Anak seperti ini jangan di biarkan terlalu bebas dan jangan di biarkan bermalas-malasan. Biasanya anak yang malas tidak tau apa yang harus dikerjakan sehingga apa yang harus dikerjakan dia lalai dan lupa akan kewajibannya. Kita bisa merubahnya dengan sebuah tindakan dengan memberikan sebuah stimulus yaitu: rangsangan sehingga anak itu bisa terpacu,dan nasehat yang bersifat mendidik.

6.        Kurang motivasi dalam belajar.
Solusinya
·      Anak yang kurang termotivasi selama belajar pada awalnya kita harus memberikan perlakuan yang khusus
7.    Sulit memperhatikan
Solusinya
·      Anak harus di berikan semacam rangsangan terlebih dahulu supaya bagaimana anak itu senang dulu dan membangkitkan rasa keingintahuannya sehingga anak pada akhirnya memperhatikan, karena guru memberikan metode belajar dengan cara menarik dan membangkitkan rasa ingin tahu anak.

8.    Daya ingat yang lemah
Solusinya
·      Ingatan yang lemah sering kali di tinjau dari faktor keturunan dan ingatan yang lemah biasanya kurangnya mengulang apa yang di pelajari dan biasanya tidak membiasakan diri.
·       Latih pikiran anda dengan permainan-permainan.
Semakin anda menggunakan keistimewaan otak, semakin anda membantu daya ingat anda tetap bugar. Ada banyak permainan yang membangkitkan kemampuan intelektual anda, sekaligus juga berkontribusi untuk hubungan sosial yang lebih baik. Backgammon, catur, teka-teki dan banyak permainan papan lainnya, menawarkan hiburan dan juga membantu anda meningkatkan daya ingat
9. Berfikir lambat
Solusinya
·      Melatih otak untuk terus menerus untuk berfikir cepat dan menghapal cepat kalau sudah terbiasa maka kebiasaan perfikir lambat Akan hilang belahan lahan intinya kita harus bayak menggali potensi otak selama ini yang kita miliki yaitu meninggalkan hal hal yang lambat kita lakukan maka kita lakukan dengan cepat dan tertata.

10.  Anak yang suka membolos.
Solusinya
·      Salah satu jalan keluarnya adalah bagiamana seorang guru mampu mengkondisikan kelas dengan baik atau mengorganisir siswa supaya siswa itu tertarik di dalam belajar dan tidak membolos memang ini suatu hal yang sulit tetapi kita harus terus mencoba. Cara melalui pendekataan baik sekali guru itu mampu meluluhkan anak yang tadi nya suka bolos tidak bolos lagi dengan cara  guru itu di setiap pelajaranya selalu di berikan perhatian kepada anak ini dengan cara di panggil namanya. Con: Seperti akhmad tolong ambilkan saya absensi hadir di Kantor nah kemudian si akhamd di suruh mengkoordidnir kelas tersebut, dengan Cara tolong di absen teman temannya dan bagi yang tidak masuk atau bolos di centang ternyata tidak ada yang bolos terus menerus setiap jam pelajaran itu si akhmad berkewajiban mengabsen temannya dan lambat laun dia tidak bolos lagi. Karena dia atau kewajibanya setiap masuk kelas siswa di absen oleh dia.

11.     Anak yang minder
Solusinya adalah:
·      Di berikan perhatian yang khusus atas keterbatasanya.
·      Harus di perhatikan dengan lebih, dan di berikan support yang penuh.
·      Di berikan semacam tugas yang agag bisa di kerjakan sesuai dengan kemampuan yang di miliki.
·      Bentuk pendekatan yang di lakukan kepada anak ini harus di bedakan dengan anak lebih.

12.       Anak yang suka tidur di setiap jam pelajaran.
Solusinya adalah
  • Bagi seorang guru apabila ada anak yang tidur terutama pada saat jam jam terakhir maka seorang guru harus bisa membangunkan anak dengan cara yang jitu yaitu pintar membuat suasana jadi ceria yaitu dengan cara guru harus pandai membuat gurauan yang bisa membikin anak itu jadi tertawa.
Peran aktif dari ketiga lembaga pendidikan akan banyak membantu melancarkan pencapaian kepribadian dan pemecahan masalah yang dewasa bagi para siswa. Ada beberapa hal kunci yang bisa dilakukan oleh lembaga-lembaga pendidikan.
Pertama, memberikan kesempatan untuk mengadakan dialog untuk menyiapkan jalan bagi tindakan bersama.
Sikap mau berdialog antara orangtua, pendidik di sekolah, dan masyarakat dengan siswa/remaja pada umumnya adalah kesempatan yang diinginkan para siswa. Menyadari kekurangan ini, lembaga-lembaga pendidikan perlu membuka kesempatan untuk mengadakan dialog dengan para siswa, kaum muda dan anak-anak, entah dalam lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat.
Kedua, menjalin pergaulan yang tulus.
Dewasa ini jumlah orang tua yang bertindak otoriter terhadap anak-anak mereka sudah jauh berkurang. Namun muncul kecenderungan yang sebaliknya, yaitu sikap memanjakan anak secara berlebihan. Banyak orang tua yang tidak berani mengatakan tidak terhadap anak-anak mereka supaya tidak dicap sebagai orangtua yang tidak mempercayai anak-anaknya, untuk tidak dianggap sebagai orangtua kolot, konservatif dan ketinggalan jaman.
Ketiga, memberikan pendampingan, perhatian dan cinta sejati.
Keempat, (disekolah) diberikannya pelatihan khusus terhadap guru agar dapat meberikan pengajaran, bimbingan dan ilmu terhadap siswa dengan baik. Menjadikan siswa sebagai teman akrab, sehingga siswa dalam lingkungan sekolah merasa nyaman dan tidak  merasa dibedakan, tsehingga ercptanya siswa yang aktif dalam belajar.
 






DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu dan Widodo Supriyono. 2004. Psikologi Belajar. Cetakan ke-2. Jakarta :
Rineka Cipta
http://id.wikipedia.org/wiki/Penyelesaian_masalahhttp://ecinhartina.blogspot.com/2011/05/masalah-masalah-yang-sering-di-hadapi.html
yudykartolo.wordpress.com/2008/02/11/masalah-dan-solusi-remaja-disekolah/
Elfiky, ibrahim. 2008. Terapi berfikir positif. Jakarta : Penerbit Zaman
yudykartolo.wordpress.com/2008/02/11/masalah-dan-solusi-remaja-disekolah/
Alumni Universitas Indraprasta. 2013. Jurnal Formatif Jurnal Ilmiah Pendidikan MIPA. Vol 3.
Jakarta : Keluarga Alumni Universitas Indraprasta,Fakultas TehnikMIPA, Lembaga
Penelitian dan Pengabdian Masyarakat UNINDRA PGRI.
Arifin, Daeng dkk. 2013. Panduan Menjadi Guru Profesional. Bandung : CV. Nuansa Mulia.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar